Senin, 01 November 2010

contoh makalah tentang : MODEL PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DAN RME (REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang Masalah
Ada kecenderungan yang terjadi pada saat ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. Dalam konteks itu siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Dan untuk pencapaian hal tersebut metode pembelajaran harus dipahami seperti metode CTL (Contextual Teaching and Learning).
Dari beberapa mata pelajaran yang disajikan di sekolah, matematika adalah salah satu mata pelajaran yang perlu dilatih dalam sistem penalarannya. Melalui pengajaran matematika diharapkan dapat meningkatkan kapasitas, keterampilan dan mengembangkan aplikasi. Selain itu, matematika adalah cara berpikir dalam menentukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan matematika adalah metode berpikir logis, sistematis dan konsisten. Karena itu solusi permasalahan dalam semua kehidupan perlu hati-hati dan teliti harus selalu merujuk kepada matematika. Pembelajaran matematika  di sekolah seperti yang kita ketahui melibatkan guru dan siswa dimana para siswa mengubah perilaku yang diarahkan pada peningkatan kemampuan dalam belajar matematika sedangkan guru harus pandai dalam mengajar yang akan membantu siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk hal itu metode pembelajar RME perlu dikembangkan dalam proses belajar mengajar. Dari konteks penguasaan materi sampai pemecahan masalah dalam suatu kelas kita akan lebih paham jika kita dapat mengembangkan sintak metode pembelajaran yaitu CTL dan RME.


1.2    Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas maka kami dapat merumuskan beberapa permasalahan yaitu sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan sintak model pembelajaran?
2.      Apa yang dimaksud dengan CTL(Contextual Teaching and Learning)?
3.      Apa yang dimaksud dengan RME (Realistic Mathematics Education)?

1.3    Tujuan
                 Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yaitu  :
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sintak model pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan CTL(Contextual Teaching and Learning).
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan RME (Realistic Mathematics Education).



















BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Sintak Model Pembelajaran
Sintaks model pembelajaran adalah langkah-langkah operasional yang dijabarkan berdasarkan teori desain pembelajaran. Sintaks pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik sering kali mengalami adaptasi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menjadi penting untuk menyempurnakan sintaks yang rekursif, fleksibel, dan dinamis.
Sebagai mediator, guru memandu mengetengahi antar siswa, membantu para siswa memformulasikan pertanyaan atau mengkonstruksi representasi visual dari suatu masalah, memandu para siswa mengembangkan sikap positif terhadap belajar, pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, dan menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para siswa, pemodelan proses berpikir dengan menunjukkan kepada siswa ikut berpikir kritis Terkait dengan desain pembelajaran, peran guru adalah menciptakan dan memahami sintaks pembelajaran. Penciptaan sintaks pembelajaran yang berlandaskan pemahaman akan mempermudah implementasi pembelajaran oleh guru lain atau oleh siswa itu sendiri.


2.2  CTL (Contextual Teaching and Learning)
Pengertian CTL (Contextual Teaching and Learning)
Kata Contextua berasal dari kata context yang berarti hubungan, konteks, suasana, dan keadaan. Jadi Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan atau ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Pembelajaran konstektual dimulai dengan sajian tanya jawab lisan yang ramah dan terbuka, yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling) sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajikan. Dengan demikian motivasi belajar akan muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana belajar menjadi kondusif, nyaman dan menyenangkan. Prinsip belajar konstektual adalah aktivitas siswa. Siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya monoton dan mencatat dan pengembangan kemampuan sosialisasi.

Ciri-ciri pendekatan kontekstual :
1.      pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan.
2.      menyadarkan pada memori spasial (pemahaman makna).
3.      siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
4.      pembelajaran dikaitkan sengan kehidupan nyata atau masalah yang disimulasikan.
5.      selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
6.      cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
7.      siswa menggunakan waktu belajar untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah.
8.      prilaku dibangun atas kesadaran sendiri.
9.      keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
10.  hadiah dari prilaku baik adalah kepuasan diri.
11.  siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut keliru dan merugikan.
12.  prilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.
13.  pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting.
14.  hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.

Komponen Pembelajaran Konsektual
Ada tujuh indikator pembelajaran konstektual yang membedakan dengan model yang lainnya yaitu :
1.      Konstruktivisme
Yaitu membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal dimana pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan.
konsep ini menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
2.      Inquiry (Menemukan)
Merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan atau konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipotesis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Siklus inquiry meliputi :
·         Observasi (Observation)
·         Bertanya (Questioning)
·         Mengajukan dugaan (Hipothesis)
·         Pengumpulan data (data gathering)
·         Penyimpulan (Conclussion)
Langkah-langkah kegiatan menemukan (inquiry) ;
1.      Merumuskan masalah
2.      Mengamati atau melakukan observasi
3.      menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.
4.      mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain.
3.      Questioning (Bertanya/tanya jawab)
Yaitu kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa dimana siswa merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. Dalam konsep ini kegiatan tanya jawab dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
1.      Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis.
2.      Mengecek pemahaman siswa.
3.      Membangkitkan respons kepada siswa.
4.      Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
5.      Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
6.      Memfokuskanperhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
7.      Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
8.      Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

4.      Learning Community (Komunitas Belajar)
Yaitu sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar dan bekerjasama dengan orang lain. Learning Community ini lebih baik dari pada belajar sendiri karena dengan indikator ini seseorang mampu untuk bertukar pengalaman dan berbagi ide. Dimana kelompok belajar atau komunitas ini berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, bekerja dengan masyarakat.
Metode pembelajaran dengan teknik learning community ini sangat membantu proses pembelajaran dikelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam :
·         Pembentukan kelompok kecil
·         Pembentukan kelompok besar
·         Mendatangkan ahli ke kelas.
·         Bekerja  dengan kelas sederajat.
·         Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya.
·         Bekerja dengan masyarakat.
5.      Modeling (Pemodelan)
Yaitu proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar sehingga siswa mengerjakan apa yang guru inginkan.
Dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.

6.      Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya)
yaitu mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa dari penilaian produk (kinerja) dan tugas-tugas yang relevan dan kontekstual. prosedur penilaian ini menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada pembelajaran, seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhir periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya dari hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.



7.      Reflection (refleksi)
yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis CTL
         Kerjasama
         Saling menunjang
         Menyenangkan
         Tidak membosankan
         Belajar dengan bergairah
         Pembelajaran terintegrasi
         Menggunakan berbagai sumber
         Siswa aktif
         Sharing dengan teman
         Siswa kritis, guru kreatif
         Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dll
         Laporan kepada orang tua bukan hanya raport, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dll.

Pokok-pokok pikiran mengenai rencana pelatihan CTL.
1.      pada hakikatnya, pelatihan CTL adalah memperkenalkan strategi pembelajaran yang dikenal sebagai pendekatan konstektual.
2.      inti dari pembelajaran CTL adalah Inquiri (menemukan).  Jadi pembelajaran harus selalu dikemas dalam format siswa menemukan sendiri.
3.      ciri dari pelatihan CTL adalah bekerja. Sesuai dengan ciri pendekatanCTL peserta harus diajak menemukan sendiri bagaimana CTL dilaksanakan dikelas.


Kelebihan dan kelemahan pembelajaran kontekstual.
  1. Kelebihan CTL (Contextual Teaching and Learning)
    • Pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dimana siswa dituntun untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar disekolah dengan dikehidupan nyata.
    • Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep pada siswa karena model pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana siswa dituntut untuk menemukan pengetahuannya sendiri.
  2. kelemahan CTL (Contextual Teaching and Learning)
Dalam metode CTL memerlukan waktu yang banyak untuk membimbing siswa. Namun waktu yang tersedia tidak terlalu banyak. Sedangkan siswa harus mampu mengembangkan ide-ide yang mereka punya. Tugas guru dalam pembelajaran ini adalah mengelola kelas untuk bekerjasama untuk menemukan pengetahuan yang baru bagi siswa dimana dalam hal itu pun kurangnya waktu yang menjadi kendala. Jadi waktu adalah kelemahan utama dalam pembelajaran kontekstual.


2.3    RME (Realistic Mathematics Education)

Pada tahun 1973, Prof. Hans Freudenthal memperkenalkan suatu model baru dalam pembelajaran matematika yang akhirnya dikenal dengan nama RME (Realistic Mathematics Education) yang di Indonesia di istilahkan dengan Pembelajaran Matematika Realistik (PMR). Hans Freudenthal adalah warga Jeman yang lahir pada tahun 1905 di Luckenwalde. Pada tahun 1930, dia pindah ke Amsterdam, Netherlands dan pada tahun 1946 beliau menjadi profesor di Universitet Utrecht. Pada tahun 1971, Freudenthal mendirikan Instituut Ontwikkeling Wiskunde Onderwijs (IOWO) atau Institut for Development of Mathematics Education, yang sekarang lebih dikenal dengan nama Freudenthal Institut. Freudenthal Institut adalah bagian dari Faculty of Mathematics and Computer Science di Utrecth University, yang        merupakan tempat pelaksanaan research tentang pendidikan matematika dan bagaimana matematika harus diajarkan. Freudenthal meninggal pada usia 85 tahun tepatnya tanggal 13 Oktober 1990.
Penggunaan istilah “realistic” bukanlah karena pembelajaran realistik berkaitan dengan dunia nyata (real world), tetapi juga berkaitan dengan penggunaan masalah yang dapat dibayangkan oleh siswa. Membayangkan dalam bahasa Belanda adalah “zich realiseren”. Penekanannya adalah membuat sesuatu menjadi nyata dalam pikiran siswa. Jadi masalah yang disajikan tidak selamanya harus berasal dari dunia nyata.

Berikutnya akan menjelaskan RME:
1. RME adalah pendekatan dalam matematika yang dipandang sebagai suatu aktivitas manusia (Freudental 1973, Teffers 1987)
2. RME adalah pendekatan yang dimulai dari hal-hal yang nyata bagi siswa, menekankan kemampuan dalam proses melakukan matematika, mendiskusikan dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas, sehingga mereka dapat menemukan sendiri (yang bertentangan inventing siswa guru telling) dan pada akhirnya menggunakan matematika adalah untuk memecahkan masalah baik perorangan atau kelompok.
3. RME adalah model pembelajaran yang menempatkan relitas dan lingkungan belajar siswa sebagai titik awal. Sebenarnya masalah yang telah atau dapat dikuasai baik oleh mahasiswa dan digunakan sebagai sumber munculnya konsep atau pengertian tentang matematika adalah meningkatnya (Soedjadi, 2001: 2)
4. RME sesuai Gravermeijer bahwa ide utama dari RME adalah seorang siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep-konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Upaya untuk membangun sebuah konsep melalui penjelajahan berbagai situasi dan masalah relistik. Realistis dalam memahami bahwa tidak hanya pada situasi yang ada di dunia nyata, tetapi juga dengan masalah yang mereka bisa bayangkan.



Secara teori RME memiliki 5 karakteristik:
·         Gunakan konteks nyata sebagai titik tolak untuk belajar matematika
·         Penggunaan model yang menekankan penyelesaian informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus
·         mengasosiasikan wijen topik dalam matematika
·         Penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika
·         Menghargai kontribusi dan ragam jawaban siswa

Ciri-Ciri RME
Menurut Yuwono ( 2001 : 3 ),  pembelajaran yang berorientasikan pada RME dapat dicirikan oleh :
a.       Matematika dipandang sebagai kegiatan manusia sehari-hari, sehingga dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Belajar dengan matematika berarti bekerja dengan matematika.
c.       Siswa diberikesempatan untuk menemukan konsep-konsep maematika di bawah bimbingan guru.
d.      Proses belajar mengajar berlangsug secara interaktif dan siswa menjadi fokus dari seua aktifitas dikelas.
e.       Pemberian perhatian yang besar pada “reinvention” yakni siswa diharapkan dapat membangun konsep dan struktur matematika bermula dari intuisi mereka masing-masing.
f.        Pengenalan konsep dan abtraksi melalui hal-hal yang konkrit atau dari sekitar siswa.
g.       Selama proses pematematikaan siswa mengkonstruksi gagasannya sendiri, tidak perlu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.
h.       Hasil pemikiran siswa dikonfrontir dengan hasil pemikiran siswa yang lainnya.
i.         Aktifitas yang dilakukan meliputi ; menemukan masalah-masalah konstektual (looking for problems), memeahkan masalah (solving problems) dan mengorganisir bahan belajar.
Fitur-Learning Model RME
·         Matematika dianggap sebagai orang-jam sehari, sehingga mereka dapat memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari
·         Belajar matematika berarti bekerja dengan matematika
·         Siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika di bawah bimbingan orang dewasa (guru)
·         Proses belajar berlangsung di interaktif dan mahasiswa menjadi fokus dari semua kegiatan di kelas
·         Kegiatan yang dilakukan meliputi menemukan masalah kontekstual (cari masalah), problem solving (pemecahan masalah), dan mengorganisir bahan pembelajaran

Karakteristik RME
Karateristik RME adalah menggunakan konteks “ dunia nyata “, model-model, produksi dan konstuksi siswa, interaktif, dan keterkaitan (intertwinment) (Treffers,1991;Van den Heuvel-Panhuizen,1998).
a.       Menggunakan masalah kontekstual “ Dunia Nyata”
Pembelajaran matematika diawali dengan masalah kontekstual (dunia nyata), sehingga memungkinkan siswa menggunakan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya secara langsung. Masalah kontekstual tidak hanya berfungsi sebagai sumber pematematikaan, tetapi juga sebagai sumber untuk mengaplikasikan kembali matematika. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik awal pembelajaran, hendaknya masalah sederhana yang dikenali oleh siswa. Masalah kontekstual dalam PMR memiliki empat fungsi, yaitu:
(1)   untuk membantu siswa menggunakan konsep matematika,
(2)   untuk membentuk model dasar matematika dalam mendukung pola pikir siswa bermatematika,
(3)   untuk memanfaatkan realitas sebagai sumber aplikasi matematika dan
(4)   untuk melatih kemampuan siswa, khususnya dalam menerapkan matematika pada situasi nyata (realitas).



b.      Menggunakan berbagai model  (Matematisasi)
Istilah model berkaitan dengan model matematika yang dibangun sendiri oleh siswa dalam mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi siswa untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau dari situasi informal ke formal.
c.       Menggunakan Produksi dan Konstruksi
Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan berbagai strategi informal yang dapat mengarahkan pada pengkonstruksian berbagai prosedur untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, kontribusi yang besar dalam proses pembelajaran diharapkan datang dari siswa, bukan dari guru. Artinya semua pikiran atau pendapat siswa sangat diperhatikan dan dihargai.
d.      Menggunakan Interaktif.
Interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, serta siswa dengan perangkat pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam PMR. Bentuk-bentuk interaksi seperti: negosiasi, penjelasan, pembenaran, persetujuan, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk pengetahuan matematika formal dari bentuk-bentuk pengetahuan matematika informal yang ditemukan sendiri oleh siswa.
e.       Menggunakan Keterkaitan (Intertwinment)
Struktur dan konsep matematika saling berkaitan, biasanya pembahasan suatu topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran yang lebih bermakna. Dalam tesis ini karakteristik ini tidak muncul











BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dalam proses belajar sintak CTL (Contextual Teaching and Learning) dan RME (Realistic Mathematic Education) sangat berguna, dimana CTL adalah konsep belajar yang membantu siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
RME (Realistic Mathematic Education) adalah matematika horizontal dan vertikal. Dimana prinsip realistic Mathematics Education ini yaitu konstruktivis, realitas, pemahaman, keterkaitan antar konsep, interaksi, dan bimbimbingan.
apabila antara CTL (Contextual Teaching and Learning) dan RME (Realistic Mathematic Education) sudah terangkai dan dipakai dalam proses belajar mengajar maka terbentuklah sintak model pembelajaran.

3.2 Saran
untuk membelajarkan siswa agar mengerti makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Guru hendaknya memberikan strategi belajar yang baik bukan hanya memberi informasi, guru haru mampu mengolah kelassebagai sebuah tim bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yangbaru bagi anggota kelas atau siswa itu sendiri terutama daam memahami konsep matematika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar